Senin, 22 Mei 2017

Pertemuan 5 6 dan 7 Ontologi Epistemologi dan Aksiologi



  •  ONTOLOGI

Ontologi ialah ilmu yang membatasi diri pada ruang kajian keilmuan yang dapat dipikirkan manusia secara rasional dan yang bisa diamati melalui pancaindra manusia. Wilayah ontologi ilmu terbata pada jangkauan pengetahuan ilmiah manusia. Sementara kajian objek penelaahan yang berada dala batas prapengalaman (seperti penciptaan manusia) dan pasca-pengalaman (seperti surge dan neraka) menjadi ontology dari pengetahuan lainnya di luar ilmu.Beberapa Tafsiran Metafisika yang paling pertama yang diberikan oleh manusia terhadap alam ini adalah bahwa terdapat wujud yang bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa disbandingkan dengan alam yang nyata. Dengan demikian, metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada.


  •  EPISTEMOLOGI

Secara kebahasaan (etimologi), istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani yakni ‘episteme’ yang berarti pengetahuan dan ‘logos’ yang berarti ilmu. Epistemologi sebagai satu kesatuan kata yang aktif berarti ilmu tentang pengetahuan. Menurut  Imam Barnadib, epistemologi merupakan sebuah penjelasan tentang apa yang disebut pengetahuan, bagaimana cara manusia memperoleh atau menangkap pengetahuan tersebut dan jenis-jenis pengetahuan yang dihasilkan. Pandangan lain dikemukakan oleh (Milton D. Hunnex dalam Akhyar, 2014: 31), menyebutkan bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sifat dasar, sumber, dan validitas pengetahuan” (epistemology comprises the systematic study of the nature, sources, and validity of knowledge).

ΓΌ  Jenis-jenis Epistemologi
Ada beberapa jenis epistemologi, Menurut Sudarminta, epistemologi dibagi menjadi tiga jenis yaitu:
a.         Epistemologi Metafisis
Plato dan Hegel membicarakan pengetahuan bertolak dari pandangan tentang metafisika yang dianggap mendasari semua realitas. Pembedaan Plato antara dunia idea dengan dunia fisis (yang diasumsikan hanya sebagai tiruan dari dunia idea) sedangkan epistemologi Hegel yang bertolak dari asumsi metafisis, di mana baginya realitas hanya merupakan perwujudan dari roh.
b.      Epistemologi  Skeptis
Epistemologi Rene Descartes adalah sebagai upaya untuk menemukan metode yang pasti, sehingga filsafat dan pengetahuan dapat mengatasi berbagai perbedaan dan pertentangan pendapat yang muncul. Cara yang dilakukan Descartes untuk menemukan metode yang pasti itu adalah dengan kesangsian metodis.
c.        Epistemologi Kritis
Epistemologi kritis bertolak pada sikap kritis terhadap berbagai macam asumsi, teori, dan metode yang ada dalam pemikiran serta yang ada dalam kehidupan kita. Pengetahuan teori, metode, dan cara berpikir yang ada dikritisi artinya dicari kelemahan atau kekurangannya Kemudian diupayakan untuk merumuskan metode baru.


  •   AKSIOLOGI

Merujuk ke asal katanya, aksiologi tersusun dari kata bahasa Yunani axios dan logosAxios berarti nilai dan logos berarti teori. Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Aksiologi berhubungan dengan penggunaan ilmu pengetahuan. Seperti dimaklumi, bahwa ilmu pengetahuan ditujukan untuk kepentingan hidup manusia.
            Memang sejatinya ilmu pengatuhan digunakan bagi sebesar-besar manfaat manusia. Manfaat bagi kehidupan manusia sebagai makhluk peradaban yang memiliki harkat dan martabat. Penggunaan produk ilmu pengethauan semestiya diarahkan pada upaya peningkatan peradaban, sejalan dengan nilai kemanusiaan yang berlaku, bukan sebaliknya.
            Landasan aksiologi adalah berhubungan dengan penggunaan ilmu tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia. Dengan perkataan lain, apa yang dapat disumbangkan ilmu terhadap pengembangan ilmu itu dalam meningkatkan kualitas hidup manusia.
            Tujuan dasarnya adalah menemukan kebenaran atas fakta “yang ada” atau sedapat mungkin ada kepastian kebenaran ilmiah. Contoh: pada Ilmu Mekanik Tanah dikatakan bahwa kadar air tanah memengaruhi tingkat kepadatan tanah tersebut. Setelah dilakukan pengujian laboratorium dengan simulasi berbagai variasi kadar air ternyata terbukti bahwa teori tersebut benar. Ilmu ini bermanfaat meningkatkan kesejahteraan dalam bidang pertanian.

Kebenaran



TEORI KORESPONDENSI TENTANG KEBENARAN
Teori yang pertama ialah teori korespondensi [Correspondence Theory of Truth], yang kadang kala disebut The accordance Theory of Truth. Menurut teori ini dinyatakan bahwa, kebenaran atau keadaan benar itu berupa kesesuaian [correspondence] antara arti yang dimaksud oleh suatu pernyataan dengan apa yang sungguh-sungguh terjadi merupakan kenyataan atau faktanya.
Teori korespondensi ini sering dianut oleh realisme/empirisme. K. Rogers, adalah seorang orang penganut realisme kritis Amerika, yang berpendapat bahwa : keadaan benar ini terletak dalam kesesuaian antara "esensi atau arti yang kita berikan" dengan "esensi yang terdapat didalam obyeknya".

Logika



Nama logika untuk pertama kali muncul pada filusuf Cicero (abad ke -1 sebelum Masehi), tetapi dalam arti ‘seni berdebat’. Alexander Aphrodisias (sekitar permulaan abad ke-3 sesudah Masehi) adalah orang  pertama yang mempergunakan kata ‘logika’ dalam arti ilmu yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita
Selain itu kata logika diturunkan dari kata “logike” (bahasa yunani), yang berhubungan dengan kata benda logos, suatu yang menunjukkan kepada kita adanya hubungan yang erat dengan pikiran dan kata yang merupakan pernyataan dalam bahasa. Jadi, secara etimologi, logika adalah ilmu yang mempelajari pikiran melalui bahasa. Logika juga bisa dikatakan penarikan  kesimpulan dari apa yang dianggap benar dari suatu proses penalaran.
Dalam logika berfikir dipandang dari sudut kelurusan dan ketepatannya. Karena berfikir lurus dan tepat, merupakan objek formal logika. Di samping dua filusuf di atas (Cicero dan Alexander Aphrodisias) Aristoteles  pun telah berjasa besar dalam menemukan logika. Namun, Aristoteles belum memakai nama logika. Aristoteles memakai istilah ‘analika’ dan ‘dialektika’. Analika untuk penyelidikan mengenai argumentasi yang bertitik tolak dari putusan-putusan yang benar sedangkan dialektika untuk penyelidikan mengenai argumentasi yang bertitik tolak hipotsesis atau putusan yang tidak pasti kebenarannya

Penalaran



Penalaran adalah kemampuan manusia untuk melihat dan memberikan tanggapan tentang apa yang dia lihat. Karena manusia adalah makhluk yang mengembangkan pengetahuan dengan cara bersungguh-sungguh, dengan  pengetahuan ini dia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Penalaran juga merupakan kemampuan berfikir cepat, tepat dan mantap. Selain itu penalaran merupakan proses berfikir dan menarik kesimpulan berupa pengetahuan. 
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara bersungguh-sungguh. Namun bukan hanya manusia yang mempunyai pengetahuan binatang juga mempunyai pengetahuan. Perbedaan pengetahuan manusia dan hewan adalah hewan hanya diajarkan hal-hal yang menyangkut kelangsungan hidupnya (survival) contohnya apabila ada bencana mereka akan cepat bersembunyi atau mencari tempat yang aman sedangkan manusia dengan cara mengembangkan pengetahuannya dia akan berusaha menghindari dan mencari penyebab terjadinya bencana sampai bagaimana mengatasinya.